Aku Tidak Bisa Apa-Apa?
- Cerpenku

- Jul 8, 2021
- 3 min read
Updated: Jul 10, 2021

Di Desa Hijau, tinggallah dua sahabat Kiki dan Koko. Koko anak kelas 2 SD yang suka bercanda, tetapi terkadang candaannya keterlaluan, Kiki lebih tua 2 tahun darinya, kelas 4, lebih serius, tetapi sangat rendah hati. Mereka bersekolah di SD yang sama.
Dari dulu, Desa Hijau memang terkenal karena banyaknya kucing liar, entah karena mereka berkembang biak dengan sangat cepat, atau karena banyak orang desa sebelah yang suka membuang kucing ke Desa Hijau. Satu kucing mereka beri nama Reno karena warnanya oren, jinak dan tingkahnya lucu. Kiki dan Koko tidak pernah berani memanggil Reno keras-keras karena terakhir kali mereka melakukannya yang muncul bukan kucing melainkan Pak Reynold, kepala desa, yang mendengar suara batuknya saja mereka sudah ketakutan.
Sabtu pagi, langit cerah dan udara terasa hangat, pagi itu sangat cocok untuk bermain bersama, setelah menyantap nasi telur ceplok dari ibunya, Kiki langsung berlari mengetuk pintu rumah Koko sambil berteriak “Kokooo.. ayo kita cari si Reno..” tangannya menggenggam satu kantong plastik berisi pelet kucing berwarna coklat. Mendengarnya, Koko buru-buru menghabiskan susu hangatnya lalu mengambil mangkok plastik bekas makanan ringan, “Aku bawa tempat minumnya ya…” lalu ke luar rumah dan bersama-sama mencari si Reno di bawah pohon beringin. Mendengar suara mereka, Reno yang sedang tidur, langsung terbangun mendekat. Kiki mengeluarkan pelet dari kantongnya, lalu menaruhnya di tanah, Koko juga menaruh tempat minum yang telah diisi air dari sungai kecil di samping pohon, sambil mengelus-elus kepala Reno.
Tiba-tiba Kiki mendapat ide “Bagaimana kalau kita membuat sebuah komunitas bernama ‘Green Kids’? Kita ajak semua anak Desa Hijau untuk bergabung.”, dia berangan-angan, mereka akan melindungi kucing liar dan menyelamatkan bumi dari polusi dan sampah plastik, Kiki melanjutkan “Ayo, selamatkan bumi dan menjadi pahlawan, kita akan menerapkan 5R dalam kehidupan sehari-hari, 5R itu Recycle, Reduce, Re.. Reuse.. daan, mmm, apalagi ya?”, tanpa pikir panjang Koko yang sebenarnya juga lupa apa itu 5R tertawa “Pantas saja nilaimu di sekolah jelek terus, hahaha…”. Tetapi Koko tetap setuju dengan ide Kiki, “Idemu bagus, aku sangat setuju.” balas Koko. Mereka berencana membuat brosur ajakan dan spanduk besar yang akan mereka pasang di atas pintu gerbang desa. Akhirnya mereka pulang meninggalkan Reno dan plastik bungkus makanannya di bawah pohon.
Dua minggu berlalu, Kiki dan Koko sudah membuat banyak brosur dan membagikannya pada anak-anak Desa Hijau, sebagian bersemangat, tapi ada juga yang tidak tertarik. Sekarang mereka fokus membuat spanduk besar ‘Selamat datang di Desa Hijau’ hanya saja, mereka bingung bagaimana cara membuatnya dan apakah boleh memasang tulisan seperti itu. Diam-diam Pak Reynold mengamati kegiatan mereka.
Suatu malam yang dingin, Kiki baru saja selesai menyantap sup wortel hangat dan melihat berita di televisi tentang bumi yang semakin kotor dan polusipun bertambah, ia sadar ada sesuatu yang salah dengan ide ‘Green Kids’nya. Kiki lalu menghubungi Koko melalui Whatsapp voicecall. Koko yang sedang membaca buku mendengar HP nya berdering dan segera mengangkatnya, “Ada apa Ki?” katanya, Kiki langsung bicara, “Koko, apakah kamu menonton berita tadi sore? Sepertinya ada yang salah dengan ide kita.”, “Hah? gimana maksudmu?” jawab Koko terdengar bingung, Kiki membalas, “Anak-anak Desa Hijau memang menjadi semakin rajin memberi makan kucing liar, tetapi apakah kamu sadar, kebanyakan mereka meninggalkan bungkusnya di pinggir jalan, dan membuat Desa Hijau menjadi semakin kotor, komunitas kita memang menjadi semakin besar, tetapi tujuan utamanya tidak tercapai.”, Koko pun terdiam beberapa saat lalu membalas “Iya, kamu betul, besok kita melakukan yang nyata saja, kita berhenti dulu mengajak orang lain, kita memberi contoh”.
Keesokan harinya, saat berangkat ke sekolah, sepanjang jalan mereka memunguti sampah-sampah bungkus makanan kucing dan tempat minum plastik kucing yang berserakan lalu membuangnya ke tempat sampah. Kiki dan Koko selalu melakukan hal itu setiap berangkat dan pulang sekolah, tanpa mereka sadari, teman-temannya juga mengikuti mereka, lama kelamaan, Desa Hijau kembali bersih. Pak Reynold terus mengamati kegiatan mereka dari teras kantor desa yang selalu dilalui anak-anak.
Pada hari Senin, anak-anak mengikuti upacara bendera, diakhir acara, ibu kepala sekolah berbicara “Anak-anak, hari ini kita mendapat kehormatan karena mendapat kunjungan dari bapak kepala desa, mari kita sambut Pak Reynold.” anak-anak pun bertepuk tangan dengan semangat. Pak Reynold naik ke panggung dan berkata, “Selamat pagi anak-anak, selama ini saya telah mengamati kegiatan kalian untuk menjaga kebersihan Desa Hijau, usaha kalian sangat berdampak bagi lingkungan tempat tinggal kita ini, saya dengan bangga mengangkat kalian semua menjadi Duta Lingkungan di Desa Hijau ya, selamat..” tepuk tangan kembali terdengar lebih keras, ibu kepala sekolah menambahkan, “Sebagai perwakilan sekolah, saya persilakan Kiki dan Koko untuk menerima penghargaan dari bapak kepala desa.” Kiki dan Koko segera naik ke panggung, Pak Reynold mengalungkan medali penghargaan kepada mereka, menyalaminya sambil mengangguk bangga, Kiki dan Koko menerimanya dengan senang, kaget, dan terharu.
Mereka semua belajar bahwa sebagai anak-anak mereka merasa tidak dapat melakukan apa-apa, tapi hal-hal kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi contoh dan berdampak besar.
- Bandung, 28 Februari 2021 (L. Nataniela)



Comments