Pupu si Pemalas
- Cerpenku

- Jul 18, 2021
- 3 min read
Updated: Jul 24, 2021

Ditengah Hutan Cempaka, berdiri sebuah sekolah untuk para serangga, ada Lalang si Belalang, Mumut si Semut, dan Caca si Capung, mereka adalah sahabat baik di sekolah mereka. “Hei lihat, siapa itu?” teriak Mumut pada suatu hari kepada kedua sahabatnya sambil menunjuk seekor kupu-kupu cantik “Itu anak baru di sekolah, dia sekelas sama kita loh Mut, namanya Pupu” jawab Caca yang baru saja datang sambil menguyah potongan roti terakhirnya sebagai sarapannya “Ohhh yaaaa??? Koookkk taauu Caaa??” jawab Lalang dengan lamban karena masih mengantuk, “Tadi aku berpapasan dengan si bodoh kepik itu loh, dia yang bercerita” jelas Caca, “Padahal datang terlambat gitu kok Caca bisa tau macem-macem, huahahahahaha” ejek Mumut sambil tertawa terbahak-bahak, “Eh.. Eh.. Udah mau jamnya loh teman-teman, yuk masuk kelas” kata Caca untuk mengalihkan perhatian supaya teman-temannya tidak jadi mengejek Caca.
Saat istirahat, Caca berbisik kepada kedua sahabatnya “Kamu lihat si Pupu? Mau jalan buat cuci tangan aja harus sambil megal-megol pamer sayap”, “Iya, negeselin deh” kata Mumut, “Dasar sombong kupu-kupu jelek! Kita gak akan mau temenan sama makhluk kaya kamu!” teriak Lalang, “Hoi, aku setuju dengan kamu, tapi dia dengar tahu” ingat Mumut, “Biarin” kata Lalang sambil pergi untuk mencuci tangan di sungai.
“Anak-anak, harap tenang, aku akan bagikan hasil ujian kalian tadi pagi” kata Bu Guru lebah setelah istirahat siang, “Semoga si Pupu dapat nilai jelek doonngg” harap Lalang, Mumut, dan Caca, tetapi… “Selamat Pupu, nilai kamu paling tinggi! 100! Padahal soalnya susah loh” puji Bu Guru sembari membagikan hasil ujian kepada Pupu. “Teman-teman, lihat, nilai ujianku paling tinggi nih, lihat, lihat!” pamer Pupu sambil melambaikan kertas ujiannya. Semua teman-teman Pupu bertepuk tangan dan terkagum-kagum, kecuali Lalang, Mumut, dan Caca yang justru tambah kesal. “Anak-anak, ingat, sebentar lagi musim kemarau, tumbuh-tumbuhan pasti kering, berusahalah cari makanan sebanyak-banyaknya sebagai persediaan yah” ingat Bu Guru, “Ya!” jawab anak-anak serentak.
Setelah pulang sekolah, Lalang, Mumut, dan Caca bekerja sama mencari makanan, sedangkan mereka melihat Pupu yang hanya bersantai-santai dibawah pohon kecil. “Lihat, akhirnya kita temukan kekurangan Pupu, dia pasti pingsan kelaparan saat musim kemarau” ejek Lalang dengan lirih, “Ya, kamu betul Lalang, dia pasti akan kena batunya” kata Caca menyetujui, “Aku juga setuju dengan pendapat kalian, yuk kita kumpulkan lebih banyak makanan saja” ajak Mumut. Mereka mulai pergi ke pedalaman hutan, sebelum meninggalkan Pupu, Caca melirik ke arah Pupu tanda mengejek. Pupu yang melihat dan mendengar semua itu sangatlah sedih. Sorenya ketiga sahabat baik itu pulang bersamaan, dan Pupu masih bersantai-santai di atas batu. “Huh, kita susah-susah, dia leyeh-leyeh” kata Caca pada teman-temannya, “Biar saja, nanti kan dia yang merasakan akibatnya” kata Mumut, “Ya” tambah Lalang.
Musim kemarau mulai datang, “Kok sudah seminggu musim kemarau si Pupu tetap santai aja, padahal dia leyeh-leyeh terus selama ini” kata Mumut saat sedang makan bersama kedua sahabatnya, “Betul-betul aneh” kata Lalang, “Eh, ada Bu Guru, sapa yuk” ajak Caca saat melihat ada Bu Gurunya lewat, “Nanti saja, sepertinya Bu Guru mau mengobrol dengan Pupu” kata Mumut. “Siang Pupu, nilaimu bagus-bagus yah, semangat terus yah, oh ya, kamu gimana aja selama musim kemarau? Sehat-sehat dan baik-baik aja kan?” tanya Bu Guru kepada Pupu, “Tentu baik dong Bu, selama liburan aku kan mencari makan” jawab Pupu sembari pamer, Lalang, Mumut, dan Caca terkejut mendengar jawaban Pupu saat sedang menguping dari kejauhan sambil bersembunyi di semak agar tidak ketahuan kalau mereka ada di situ. “Hebaaatt Pupu, Bu Guru bangga punya murid seperti kamu!” puji Bu Guru, “Hehe, gak seberapa kok Bu, aku cuma pergi ke tengah hutan kalau malam, mengambil beberapa kantong nektar bunga, soalnya aku udah berada di fase kupu-kupu muda, udah ngga serakus ulat, hehe, kalau malam soalnya sepi dan tidak panas. Masih lebih rajin Lalang, Mumut, dan Caca kok Bu” kata Pupu sambil memuji ketiga temannya. “Semangat terus ya” pesan Bu Guru sambil mengelus kepala Pupu.
“Pupu, maaf selama ini kita salah, kami kira kamu tidak pernah berusaha mencari makan” kata Lalang, Mumut, dan Caca sambil keluar dari tempat persembunyian mereka. “Loh, sejak kapan kalian ada disini???” tanya Pupu dengan heran, “Kami sedang piknik, hehe, mau ikut Pupu?” tawar Mumut, “Gak usah, gak papa kok, takut ngeganggu kalian nih, hehe” kata Pupu sambil tersenyum, “Ngga kok” kata Caca, “Kalau begitu, oke, terima kasih ya” kata Pupu. “Masih mau berteman dengan kami kan?” tanya Lalang, “Mmm.. bukankah kalian menganggap aku sombong dan tidak mau berteman dengan ku? Maaf, aku memang salah, selama ini aku terlalu sombong” kata Pupu, “Harusnya kami yang minta maaf Pupu, kamu ternyata baik kok” kata Lalang, Mumut, dan Caca. “Terima kasih banyak teman-teman. Oh ya, nih, aku kasih beberapa nektar bunga dari persediaanku, aku gak banyak makan kok” kata Pupu sambil menyodorkan satu keranjang berisi nektar bunga. Akhirnya mereka berpiknik bersama, dan setelah itu, Lalang, Mumut, Caca, dan Pupu menjadi sahabat baik.
- Bandung, 18 Juli 2021 (Luna)
Amanat:
1. Jangan selalu berprasangka buruk kepada orang lain hanya karena kita tidak menyukai sikapnya. Siapapun itu bisa benar, dan bisa salah.
2. Jangan mengejek orang lain.
3. Berani meminta maaf dan mengakui kesalahan.
4. Mau memaafkan kesalahan orang lain.



Comments