Kuku yang Tak Pernah Bersyukur
- Cerpenku

- Jul 16, 2021
- 3 min read
Updated: Jul 24, 2021

Kuku adalah seekor kura-kura kecil, ia selalu diam didalam cangkangnya dan mengeluh di pinggir jalan setapak Hutan Hijau, dibawah pohon cemara yang tinggi, menurut Kuku itu adalah tempat yang ternyaman, meskipun bukan favoritnya. “Panas banget sih” katannya pada suatu siang disaat matahari sedang bersinar dengan sangat terik, “Aku mau jalan-jalan padahal, tapi kalau panas jadi gagal deh, kalau gak ada matahari hari ini gak sepanas gini kan?” keluhnya. Tiba-tiba ada kura-kura lain yang lewat di depannya dan menegur Kuku “Baru panas segini saja sudah mengeluh, nanti benar-benar tak ada matahari gimana loh, rasain ya” tetapi Kuku tidak mempedulikannya. Sorenya, teman-teman Kuku mengajak Kuku lomba lari “Tak mau ah, malas, aku ngantuk” kata Kuku “Bayangkan kalau aku tak punya kaki, aku tak akan diajak bermain kan” katanya “Jangan salahkan kakimu Kuku, itu karena kamu saja yang pemalas” kata teman-temannya, Kuku tetap saja tidak mau mempedulikannya. Tak lama kemudian sahabat Kuku mendatangi Kuku “Minum air putih yang banyak Kuku, kelihatannya kamu serak sekali dari tadi” tegur sahabatnya “Tidak, tidak, tidaaakkkk, aku tak suka disuruh ini itu, bayangkan kalau tidak ada air..” jawab Kuku, sahabatnya langsung segera meninggalkan Kuku. Malamnya, Kuku tetap saja mengeluh “Aduh, kok si serigala itu menggonggong terus, berisik, aku tak bisa tiduuurr kalau begini, kalau saja aku hidup menyendiri” “Jangan begitu, serigala itu baik kok, kalau kamu marah-marah terus, nanti dia jadi jahat sama kamu lho, Kuku”, “Lho siapa tadi” tanya Kuku “Tengoklah ke atas Kuku, ini aku, Buha si burung hantu” jawab Buha “Eh, Buha?” kata Kuku “Yah, ini aku. Kuku, kenapa dari siang kamu terus menerus mengeluh??” tanya Buha dengan penasaran “Lihatlah, aku hidup seperti ini, kalau siang panas sekali, kalau lagi mengantuk diajak bermain, dan lihat, kalau malam berisik sekali Buha, apakah kamu mengerti perasaanku?” kata Kuku “Tidak, kurasa hidupmu baik-baik saja, kamu saja yang melebih-lebihkannya” ejek Buha “Kamu tak suka ada matahari kan? Kamu tak ingin punya kaki? Kamu tak mau ada air gitu? Dan tak suka hidup bersama serigala?” tambah Buha “Betuull” jawab Kuku “Kalau begitu, pergilah ke hutan sebelah, kamu tahu kan?” saran Buha “Tentu aku tahu, aku tak sebodoh itu” kata Kuku dengan tertawa riang. Kuku segera berjalan pergi ke hutan yang dimaksud Buha “Dadah hutan lama, aku akan hidup lebih bahagia, jangan iri ya, hahaha” kata Kuku sebelum meninggalkan hutan lamanya. Di hutan baru itu, Kuku langsung tidur. Esok nya, disiang hari, Kuku berkata dalam hati “Gelap, kenapa tak ada matahari hah? Hutan ini begitu gelap, seraamm, dingin, dan lembab pula, ini siang hari kan?”. Sorenya, Kuku ingin bermain “Karena tak ada siapa-siapa, ya sudah aku bermain sendiri” katanya, ia berlarian kesana kemari, tiba-tiba ia jatuh lantaran hutan terlalu gelap “Aduh, kakiku sakit, sepertinya butuh berbulan-bulan untuk sembuh” katanya dengan lirih karena kesakitan, “Aduh haus pula” tambahnya, tetapi setelah mencari kesana-kemari tak ada sungai satupun. Malamnya lagi-lagi Kuku mengeluh “Sepi sekali, kok gak ada serigala” keluhnya, “Buha mempermainkanku, ia menyarankan aku ke hutan ini, sekarang aku takut sekali” katanya, tetapi tiba-tiba Kuku teringat, bahwa selama ini dia tak pernah mensyukuri kehidupannya, ia merasa, matahari yang biasa ia lihat seketika tak ada, kaki yang ia biasa pakai berjalan tak berguna lagi, sungai yang biasa mengalir tiba-tiba kering, dan serigala yang biasa menggonggongpun tak bersuara di hutan yang baru. Kuku ingin pulang, tapi kakinya masih sakit. Pelan-pelan Kuku berjalan pulang ke Hutan Hijau dengan wajah tertunduk, malu bertemu Buha.
- Bandung, 16 Juli 2021 (Luna)
Amanat Cerita:
1. Hal yang sering kita lihat, kita rasakan, seakaan sudah biasa, padahal hal biasa bagi kita belum tentu hal biasa bagi orang lain.
2. Selalu mensyukuri keberadaan kita karena tidak semua orang pernah merasakannya.
3. Mau mendengarkan nasehat orang lain.



Comments